
Tembakau yang sudah siap diangkut ke tengkulak.
Misalnya saja rengit, kutu daun yang membuat daun tembakau menjadi bentol-bentol merah. Lalu putur sawang, hewan mikroskopik yang merusak daun tembakau dari lapisan daun bagian dalam, sehingga tembakau berlubang dan berwarna putih. Tiap hari, para petani juga mesti membuang tunas-tunas baru yang hendak muncul membentuk cabang, agar tidak berkompetisi dengan batang utama yang menghasilkan daun-daun tembakau yang akan dipanen. Cuaca yang tidak menentu, misalnya banyak hujan, juga bisa membuat tembakau turun mutunya atau rusak.

Para penjual keranjang tembakau di Pasar Ngadirejo, berharap kena imbas kenaikan harga tembakau.
Hal lain yang masih dikeluhkan petani adalah penentuan berat keranjang tembakau yang ditentukan secara sepihak oleh tengkulak, yang menjadi penghubung antara para petani dan pabrik rokok. Seringkali, para tengkulak itu melakukan pengurangan terlalu banyak.
“Sebagai contoh, menurut kami berat keranjang tembakau itu rata-rata 5 kg. Jadi kalau tembakau dan keranjanganya ditimbang dan beratnya 40 kg, maka isi bersih tembakaunya 35 kg. Tapi tengkulak kadang menetapkan berat keranjang 8 kg, sehingga isi bersih tembakaunya hanya 32 kg. Jadi, dengan selisih berat keranjang ini saja tengkulak sudah untung,” tutur Setyobudi, kepala desa Gandu Wetan.
Untungnya, tahun ini para petani tembakau bisa sedikit tersenyum, karena harga jual tembakau sedang bagus-bagusnya. Cuaca di musim kemarau tahun ini sangat baik –hampir tidak ada hujan– sehingga mutu tembakau yang dihasilkan lebih baik dari tahun lalu. Karena tahun lalu banyak petani berasumsi bahwa tahun ini cuaca akan jelek, dan banyak yang beralih menanam tanaman lain, maka produksi tembakau tahun ini agak menurun, dan sesuai hukum suplai dan permintaan, harganya pun menaik. Hal ini akan berimbas pada penghasilan buruh tani tembakau juga, yang menjadi profesi sebagian penduduk Gandu Wetan. Karena tidak punya lahan, mereka menggantukan hidup dari upah merajang, menjemur, atau merawat tanaman tembakau milik para petani, yang untuk itu mereka dibayar Rp 7.500 per hari. Naiknya harga tembakau, memberi harapan juga akan menaiknya penghasilan mereka. [T]