Panen tembakau di Gandu Wetan Ngadirejo Temanggung
Indonesia, Journey

Desa-desa Asap

Tembakau yang terletak di lereng gunung, yang disebut tembakau tegalan, menurut Bukhori mempunyai mutu lebih bagus dibanding tembakau sawahan, yang ada di sawah-sawah di desa yang letaknya lebih rendah, seperti di Gandu Wetan. “Tembakau tegalan bisa mencapai totol F, sementara tembakau sawahan, bisa mencapai totol D saja sudah sangat bagus.”

Totol adalah istilah untuk membedakan mutu (grade) tembakau, yang dinilai berdasarkan tiga kriteria: warna, bau, dan tekstur tembakau saat dikepal dengan tangan. Totol A adalah mutu paling rendah, ditandai dengan warna tembakau kering yang masih hijau kekuningan, sementara yang paling tinggi, totol F, berwarna cokelat tua.

“Harga tembakau totol A sekarang ini Rp 20 ribu per kilo. Harganya makin meningkat untuk tembakau totol B, C, D, E, hingga totol F yang biasa disebut tembakau srintil,” tutur Bukhori, yang juga perangkat desa Gandu Wetan. “Rata-rata, untuk setiap beda mutu, selisih harganya sekitar Rp 7.500 per kilogram tembakau kering,” tambahnya.

Menjelang petang, kami berkunjung ke Desa Tegalrejo, tak jauh dari sumber air suci Jumprit yang ramai setiap menjelang perayaan Waisak. Atas petunjuk Kusriyati, kepala desa Tegalrejo, kami diantar asistennya berkunjung ke rumah-rumah penduduk.

Berbeda dengan penduduk Gandu Wetan, penduduk Tegalrejo yang hampir semuanya petani tembakau, merajang tembakau di malam hari, dengan tujuan pagi hari tinggal menjemur di pekarangan. Tak heran jika malam ini, hampir tiap rumah di desa yang berhawa dingin ini ramai oleh orang-orang yang merajang, maupun menggulung tembakau. Alat perajangnya tak hanya yang manual memakai gobang, namun yang lebih modern, memakai mesin. Tembakau-tembakau kering yang sudah digulung dimasukkan ke dalam keranjang bambu berisi pelepah-pelepah kering pohon pisang. Mereka tidak membuat sendiri keranjang ini, melainkan membelinya di Pasar Ngadirejo seharga antara Rp 60-100 ribu per buah.

Rokok kretek racikan sendiri di Temanggung

Kopi dan kretek racikan sendiri, teman setia saat merajang tembakau.

Sebagai teman pencegah ngantuk, ada dua suguhan yang tidak pernah ketinggalan di setiap rumah, yakni kopi tubruk dan seperangkat alat rokok tradisional. Alat rokok ini terdiri dari tembakau yang dibungkus dalam wadah dari anyaman daun pandan, cengkeh dalam plastik, korek api, dan kertas rokok. Meski tembakau mereka diserap perusahaan-perusahaan rokok besar seperti Gudang Garam, Djarum, Bentoel, dan perusahaan-perusahaan rokok lain, rokok racikan sendiri lebih disukai. Selain karena dinilai lebih ‘mantap’ juga karena lebih murah. Karena bukan perokok, saya hanya mencoba rokok racikan ini sekali saja, dan berhenti karena terbatuk-batuk. Hanya kopi saja yang saya minum berkali-kali untuk menghormati tuan rumah, meski akhirnya kepala saya berdenyut-denyut karena kopinya terlalu pekat.

Antara Hama dan Tengkulak

Meski sekilas terlihat mengasyikkan melihat proses mengemas tembakau, namun sebenarnya sebelum sampai ke tahap ini, para petani tembakau mesti menunggu minimal 100 hari untuk tembakau jenis genjah sebelum bisa memanennya. Atau tambah satu bulan lagi untuk jenis tembakau kemloko. Selama masa ini, pemeliharaan yang dilakukan cukup menguras tenaga dan biaya, mengingat kini muncul hama-hama baru yang siap merusak daun tembakau.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *