Panen tembakau di Gandu Wetan Ngadirejo Temanggung
Indonesia, Journey

Desa-desa Asap

Menjemur tembakau di Desa Pringapus, Temanggung

Menjemur tembakau di Desa Pringapus. Sebagian anak membantu orangtuanya, sebagian lebih suka bermain.

Hampir di setiap rumah, di halaman, saya menjumpai aktivitas merajang, menjemur tembakau rajangan, dan mengggulung serta mengemas tembakau yang sudah kering. Tembakau-tembakau yang tengah dijemur bisa ditemui di jalan-jalan kampung, hingga ke pinggir-pinggir jalan raya, menebarkan baunya yang khas, yang –well– seperti bau rokok. Sementara tanaman tembakau yang belum dipanen, melambai di sisi kiri-kanan jalan ke mana pun saya pergi.

Menjemuar tembakau di Desa Pringapus, Temanggung

Tak ada halaman untuk menjemur tembakau, jalan desa pun jadi.

Di Desa Pringapus, beberapa kilometer barat daya Gandu Wetan, siang jam 11 itu saya melihat, di jalan utama desa itu para penduduknya tengah membalik tembakau yang telah dijemur sejak pagi. Cara membaliknya unik. Dua orang menaruh rigen kosong di atas rigen yang berisi tembakau. Mereka lalu membalik pasangan rigen itu sehingga isinya berpindah ke rigen yang baru. Sisa tembakau yang masih tertinggal di rigen lama ditepuk-tepuk dengan pemukul dari kayu.

“Biasanya jam-jam ini memang waktunya orang membalik tembakau yang dijemur,” jelas Bukhori dan Budi, yang mengantar saya berkeliling memakai motor. Motor kami mesti berjalan pelan-pelan karena sebagian badan jalan kini menjadi tempat jemuran. Warna rajangan daun tembakau yang semula kuning sebagian besar sudah menjadi cokelat dan menebarkan bau khas tembakau.

Panen Bertahap

Di sebelah barat desa ini, yang mempunyai pandangan langsung ke Gunung Sundoro yang menjulang ke angkasa, terhampar perkebunan tembakau yang subur. Beberapa orang tengah bekerja di kebun-kebu milik rakyat ini. Ada yang sedang membuang tunas-tunas cabang, ada juga yang tengah memanen daun tembakau. Orang-orang yang memetik daun tembakau tangan dan bajunya kotor oleh getah alami yang menyelimuti permukaan daun tembakau. Hasil panen itu mereka masukkan ke dalam keranjang bambu lalu mereka pikul, atau mereka bungkus dengan karung goni dan dibawa dengan motor.

Para pemanen tembakau di kaki Gunung Sundoro

Para pemanen tembakau di kaki Gunung Sundoro. Baju menghitam terkena getah tembakau.

Menurut Bukhori, panen tembakau dilakukan secara bertahap. Yang pertama adalah daun-daun yang paling bawah, dekat tanah. Mutu panen pertama ini biasanya tidak terlalu bagus. Semingu kemudian dilakukan panen kedua pada kelompok daun di atasnya. Seminggu kemudian dilakukan panen ketiga pada kelompok daun di atasnya lagi, dan terakhir adalah panen daun-daun yang paling atas. “Jadi panen keseluruhan memerlukan waktu sekitar sebulan. Setelah selesai, pohon ditebang dan diganti tanaman lain, seperti padi atau jagung. Tahun depannya, ditanam lagi biji tembakau sekitar bulan April-Mei, dan panen di bulan Agustus-September.”

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *