Saya mampir ke pabrik gerabah milik Haji Amin di samping Masjid Jami Baitul Ma’mur, yang saya kira tengah membakar gerabah karena ada asap mengepul dari pabrik ini. Ternyata itu asap dari pekarangan rumah di belakang pabrik. Untungnya, Amin tengah menata gerabah-gerabah yang sudah kering itu di dalam kiln untuk dibakar besok. Meski api belum dinyalakan, masuk ke rumah pembakar ini membuat saya langsung keringatan saking panasnya. Bisa dibayangkan betapa berpeluhnya para pekerja yang mengawasi proses pembakaran, apalagi jika lima klin milik pabrik ini dioperasikan semua!

Gerabah-gerabah menunggu antrian untuk dibakar di kiln.
Jejen, anak keempat dari lima bersaudara anak Amin, tahu sampai di tahap mana pembakaran itu dengan mengamati warna api dari lubang kecil di dinding kiln tradisional itu. Dia juga tahu cara memanfaatkan panas sisa yang keluar dari kiln. Di atas kiln, dia buat para-para dari bambu, dan gerabah-gerabah yang masih basah ditaruh di situ. “Saat baru dibuat, gerabah mengandung air sekitar 60 persen. Dengan diangin-anginkan, lalu ditaruh di atas kiln, kadar airnya turun menjadi 30 persen. Dengan cara itu, waktu pembakarannya bisa lebih singkat, sekitar 20 jam.”
Di pabrik ini, para karyawan juga sibuk membuat gerabah, mulai dari pot-pot kecil untuk tanaman anggrek yang seharga Rp 20 ribu, hingga pot dan jambangan bunga besar seharga Rp 35-40 ribu – tentunya lebih mahal lagi setelah sampai ke pengecer. Berbeda dengan gerabah Eman yang menyasar pasar ekspor, gerabah Amin banyak dibeli konsumen domestik. Pabrik yang luas dan puluhan karyawannya yang masih ramai bekerja di Sabtu sore ini, menunjukkan bahwa gerabah Amin ramai dipesan. Terlebih lagi, dia tak perlu khawatir dengan stok bahan baku, karena lempung itu tinggal diambil dari sawah yang ada di samping rumah. [T]
BOKS:
Menuju Plered
Kalau memakai kendaraan pribadi, dari Jakarta melalui Tol Cipularang, keluar di pintu tol Jatiluhur. Di pertigaan Ciganea –ada Rumah Makan Ciganea yang terkenal di sini– belok kanan menuju arah Plered, kira-kira 12 km. Desa Anjun dengan toko-toko serta pabrik gerabahnya terletak sebelum pusat kota Kecamatan Plered.

Mobil berderet-deret bukan sedang parkir tapi tengah dijemur.
Kalau ingin sedikit lebih berpetualang, bisa juga naik kereta api Serayu dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, turun di Stasiun Plered, dilanjut dengan naik angkot. Detilnya ada di artikel ini: https://teguhsudarisman.com/kereta-penuh-drama/.
Kontak yang mungkin berguna: Haji Eman Sulaeman (0818-09058081, 0264-270862), Jejen-Haji Amin (0859-26086275).
Awesome post.
Terima kasih sudah mampir. Silakan baca-baca postingan yang lain juga di blog ini.