
Setelah dua kali disambung, saatnya Mang Ujang merapikan.
Selain Mang Encu, juga ada Mang Ujang dan Mang Sulaeman yang tengah menyambung gerabah. Ternyata, untuk gerabah berukuran tinggi besar seperti pot, tempat payung, atau guci –pabrik ini bisa membuat guci setinggi 120 cm– perlu dua kali penyambungan. Pertama mereka membuat bagian dasar, lalu dikeringkan 1-2 hari dengan bagian ujungnya ditutup plastik agar tetap lembab. Kemudian menyambung lagi dengan bagian tengah, langsung dengan menambah lempung di atasnya. Dikeringkan lagi, lalu menyambung dengan bagian atas, sekaligus merapikan agar sambungan rapi dan kuat. Gerabah yang sudah utuh itu lalu diangin-anginkan, dan ketika sudah lebih padat, menjadi tugas Mang Asep untuk membuat pola-pola lekukan maupun motif pahat sesuai permintaan pemesan.
Suhu 800-900 Derajat Celsius
Setelah mencapai tingkat kering yang diinginkan, gerabah-gerabah itu dibakar dalam kiln atau rumah pembakar. Eman, yang menekuni bisnis turun-temurun ini sejak 22 tahun lalu, kini mempunyai 3 kiln tradisional dan 2 kiln modern. Kedua jenis kiln ini memakai bahan bakar kayu karet, tapi dinding luar kiln modern mempunyai lapisan insulator sehingga panas pembakaran menjadi lebih efektif. Kalau kiln biasa butuh 24 jam untuk ‘mematangkan’ gerabah, kiln modern butuh sekitar 20 jam. Sebuah waktu yang masih cukup lama sebenarnya, terlebih kalau mengingat suhu kiln itu yang mencapai 850-900 derajat Celsius, dan efek panasnya menyebar ke ruangan sekeliling.
Sayang sekali, hari ini Eman tidak membakar gerabah. “Nanti saya beritahu kalau kami mau membakar, jadi bisa ke sini lagi,” tutur sarjana pendidikan lulusan IKIP Bandung ini.

Membakar gerabah di kiln dengan api yang panasnya 800-900 derajat Celsius.
Awesome post.
Terima kasih sudah mampir. Silakan baca-baca postingan yang lain juga di blog ini.