“Gerabah ukuran kecil-kecil umumnya kami ekspor ke Jepang dan Korea. Gerabah yang besar seperti guci, tempat payung, pot, bak mandi, dan perlengkapan interior rumah, umumnya kami ekspor ke Eropa.”

Salah satu showroom gerabah di Desa Anjun, Plered. Mau pilih yang mana?
Dalam sebulan, rata-rata Eman mendapat pesanan 1.300 gerabah ukuran besar dan 2.000 gerabah ukuran kecil hingga sedang. Kalau pesanan melimpah, Eman yang juga ketua Klaster Gerabah Plered itu memobilisasi 8 anggotanya untuk ikut membantu.
Bagusnya prospek ekspor gerabah ini bisa dilihat dari penghasilan karyawan Emang. Setiap minggu, mereka bisa mengantongi sekitar Rp 500 ribu, suatu jumlah yang cukup bagus untuk ukuran bekerja di desa. Meski, sepertinya, profesi perajin gerabah ini kurang diminati, terlihat dari karyawan-karyawan Eman yang semuanya telah berumur.

Bayangkan, perlu waktu berapa lama untuk membuat gerabah sebesar ini?
“Padahal membuat gerabah tidak sulit. Belajar selama tiga bulan di sini pun pasti sudah mahir,” tutur Mang Encu. Mungkin karena kesan kotor, mesti bergelut dengan lempung dan air, membuat anak-anak muda enggan menekuni pekerjaan ini.
Belum Dibakar pun Sudah Panas
Hari sudah beranjak sore, dan saya pun menyusuri Jalan Raya Anjun ke arah balik ke Jakarta, sambil mencari-cari kalau ada pabrik yang tengah membakar gerabah. Konon kata ‘anjun’ ini berasal dari nama Pangeran Panjunan, tokoh abad ke-15 yang menyebarkan agama Islam di berbagai daerah di Jawa Barat, sambil membagikan keahliannya membuat gerabah.
Awesome post.
Terima kasih sudah mampir. Silakan baca-baca postingan yang lain juga di blog ini.