Forbidden City Beijing
Journey, Mancanegara

Beijing Underground

Di internet, stasiun Xi Yuan dikatakan dekat dengan pintu timur Summer Palace, tinggal jalan kaki ke barat dan utara sekitar 300 meter. Jadi akhirnya saya pun turun di stasiun ini.

Bingung atau Tak Bisa Baca?

Stasiun Xi Yuan tampaknya masih baru, dan sepi. Saya keluar melalui pintu C2, dan lagi-lagi akhirnya saya terdampar di pinggir jalan raya. Kali ini jalannya lengang, cuma berhias pohon-pohon cokelat kusam meranggas. Dua hari lalu saya memang ke Summer Palace bersama rombongan tur, tapi itu memakai bus, dan sekarang ini saya tidak menemukan tanda-tanda pintu gerbang seperti yang kemarin kami masuki. Sesekali tukang ojek sepeda lewat, tapi tidak bisa membantu saya. Dan karena saya ke mana-mana  –baik ke gunung atau ke laut–  tidak pernah membawa kompas atau GPS, sementara saat ini saya tidak tahu sedang menghadap ke mana, yang bisa saya lakukan adalah menebak-nebak. Terlebih hari ini sudah sore, dan matahari bersembunyi entah di mana.

Summer Palace Beijing

Summer Palace di kejauhan sana. Resor yang saya tuju ada di samping depannya.

Saya pun berjalan ke arah kiri, menyusuri trotoar lebar sambil menyeret kopor saya. Beberapa puluh langkah berlalu, tapi saya belum menemukan petunjuk arah ke Summer Palace. Untung kemudian saya berpapasan dengan seorang laki-laki yang sepertinya cukup intelek karena memakai jas. Saya tunjukkan alamat Aman di Gongmenqian Street Nomor 1, yang ditulis dengan huruf latin maupun China.

“Yang Aman ini saya tidak tahu, tapi kalau Summer Palace tinggal jalan saja terus,” katanya. Alhamdulillah, berarti saya tidak tersesat!

Langkah saya berakhir di sebuah jalan melingkar yang menjadi putaran bus-bus, dan ada penunjuk bertuliskan Summer Palace. Ini pasti pintu timur, pikir saya. Tapi kok berbeda ya suasananya dengan pintu Summer Palace yang dua hari lalu saya masuki?

Saya terus saja berjalan menuju warung-warung suvenir, dan bertanya kepada seorang pedagang wanita. Nah, di sinilah lagi-lagi saya melakukan kesalahan. Bukannya rasis atau bias jender, tapi dari berkali-kali pengalaman, saya selalu tambah pusing kalau menanyakan arah ke kaum hawa. Dan di sini saya mengulangi lagi kesalahan yang sama. Si ibu itu berpikir keras membaca alamat Aman itu. Dia berkali-kali menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, sebuah tanda bahwa dia tidak tahu alamat itu – atau tidak bisa membaca.

Aman at Summer Palace Beijing

Yang dicari-cari akhirnya ketemu juga – Aman at Summer Palace Beijing.

Wanita itu menunjukkan kertas alamat itu kepada seorang lelaki yang tengah berjalan menuntun sepeda. Sepertinya laki-laki muda itu seorang satpam yang hendak pulang kerja.  Hanya sedetik, laki-laki itu melambaikan tangan ke saya untuk mengikutinya. Kami berjalan tanpa bicara menyusuri jalan aspal yang dibatasi tembok tinggi di sisi kiri kami.

Kira-kira 100 meter kemudian, pandangan mata saya terantuk pada pelat nama berwarna emas di samping sebuah pintu gerbang, yang bertuliskan… Aman at Summer Palace! Akhirnyaaa, saya sudah Aman sekarang! [T]

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *