Guomao merupakan stasiun transit yang sibuk, dan saya tenggelam dalam arus ribuan penumpang yang semuanya berjalan cepat di lorong perpindahan jalur. Konon, subway Beijing ini mengangkut 4 juta penumpang setiap hari. Untungnya para penumpang di sini juga sama tertibnya seperti di Bangkok, dan keretanya juga datang hampir tiap 3 menit, jadi tidak perlu berebutan. Saya berdiri di sepanjang perjalanan karena kereta penuh penumpang, tapi okelah, karena ini masih jauh lebih baik daripada naik KRL ke Bogor saat jam sibuk.
Tak Cukup Waktu Juga
Keluar dari stasiun Tiananmen Barat, pandangan saya terantuk pada Gedung Teater Besar Nasional yang kubahnya seperti telur raksasa, di seberang jalan. Tapi saya tidak ke sana, melainkan menyusuri trotoar ke arah timur (terus-terang saya disorientasi, saya mengiranya berjalan ke utara) hingga trotoar makin ramai oleh orang yang lalu-lalang dan berfoto-foto di halaman Gerbang Tiananmen, pintu utama menuju Forbidden City.
Gerbang berpintu lima ini dijaga dua tentara yang mengapit pintu tengah yang tertutup dan di atasnya tergantung foto Mao Zedong. Para pengunjung masuk melalui pintu di samping pintu utama. Di balik gerbang ini ada halaman yang luas dan dipenuhi para pengunjung serta penjual asongan yang ternyata juga kucing-kucingan dengan para petugas penjaga istana.
Memasuki gerbang kedua, pengunjung belum dikenai tiket. Di halaman ini ada toko-toko suvenir, dan bangunan di sisi kanan saya yang menempel ke tembok tinggi tampaknya sedang ada pameran lukisan dari Universitas Xian. Saya pun masuk ke sini untuk menghangatkan diri. Mr. Jacky, salah satu dosen sekaligus pelukis, dengan senang hati menjelaskan berbagai aliran karya-karya lukis yang dipamerkan. Yang menarik saya adalah lukisan-lukisan berkarakter China namun bergaya Picasso, meski akhirnya saya membeli lukisan Great Wall berselimut salju yang bergaya tradisional, karena harganya yang masih ‘wajar’, 200 yuan.

Mr. Jacky yang mirip Jackie Chan.
Di depan gerbang ketiga, barulah para pengunjung membeli tiket masuk seharga 40 yuan, dan tambah lagi 40 yuan kalau mau ditemani pemandu elektronik berupa headphone dan pemutar rekaman suara. Sayangnya, waktu sudah semakin siang, sementara saya harus kembali ke hotel dan check out untuk pindah ke resor Aman at Summer Palace. Kalau diteruskan masuk ke Forbidden City, yang luasnya 75 hektar dan dengan 980 bangunan di dalamnya, bisa-bisa sampai besok siang juga saya tidak akan keluar dari sini.

Banyak juga pedagang asongan yang menjual manisan dan permen di dalam Forbidden City.