Sunset di Karimunjawa dilihat dari Wisma Apung
Indonesia, Journey

Surga Kecil Karimunjawa

Kami baru pulang menjelang sore, tapi kali ini mampir dulu ke perkampungan dekat dermaga, karena perut keroncongan minta diisi. Hingga senja, kami menghabiskan waktu dengan makan bakso dan sate, naik odong-odong keliling pulau, dan melihat latihan menari di sebuah sekolah dasar. Begitu kembali ke wisma, rutinitas kemarin sore terulang lagi: melihat sunset. Kali ini, sinar matahari membuat garis seperti pita melintasi sebuah rumah bagan yang ada di belakang wisma.

Hujan di Tengah Laut

Cuaca agak mendung ketika pagi itu perahu kami bergerak menuju Pulau Gosong Seloka, di timur Pulau Karimun. Dua atau tiga lumba-lumba tampak berloncatan di kejauhan sana, dan hanya membuat kami kecewa karena pertemuan tak terduga ini berlangsung sangat singkat. Dan benar, begitu kami sampai ke pulau gosong, mendung yang tadi makin menebal berubah menjadi hujan deras. Kami meringkuk di bawah terpal untuk menghindari terpaan air hujan yang dingin, begitu perahu bergerak di tengah guyuran hujan. Meski saya sempat khawatir dan menyarankan untuk pulang ke wisma, namun tampaknya Mas Aris sang jurumudi yakin bahwa hujan ini ringan saja. Ia pun tetap membawa kami ke tujuan semula, ke Pulau Cilik di utara sana.

Perahu angkutan antarpulau di Karimunjawa

Bertemu angkutan antarpulau Karimunjawa saat island hopping.

Perkiraan Mas Aris benar, karena hujan ini tidak disertai angin dan ombak besar, dan agak berkurang begitu kami merapat di dermaga Pulau Cilik. Dua perahu yang membawa rombongan lain tampak juga bersandar di pulau berpasir krem ini, dan para penumpangnya tampak tengah… snorkeling lagi di tengah hujan.

Saya tak mengerti apa enaknya snorkeling di tengah hujan, jadi saya memutuskan untuk berteduh di teras sebuah vila, dan begitu hujan benar-benar berhenti, saya berjalan kaki mengelilingi pulau. Sesuai namanya, dikelilingi dalam 5 menit saja pulau ini sudah habis. Pulau ini mirip dengan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Yang membedakannya, di sini selain ada pohon-pohon cemara juga banyak pohon kelapa.

Tanjung Gelam Karimunjawa

Life is a beach!

Cuaca yang belum kembali cerah masih mengikuti kami begitu perahu bergerak lagi ke Pulau Tengah. Pulau ini jauh lebih besar dan lebih ramai dibanding Pulau Cilik. Pohon-pohon kelapa lebih banyak lagi di sini, begitu juga perahu-perahu wisatawan yang ditambatkan di dermaga. Namun tak hanya itu. Saya melihat ada grup-grup diving dan juga grup SAR yang tengah melakukan latihan penyelamatan. Tenda-tenda mereka terpasang di pelataran tak jauh dari dermaga. Kami snorkeling tak jauh dari dermaga, dan mata kami dimanjakan oleh terumbu-terumbu karang cantik dan ikan-ikannya yang berseliweran. Di sini kami menemui banyak karang meja yang berbentuk bulat pipih, lebih banyak dibanding di pulau gosong dekat Tanjung Gelam.

Grup diving yang kami temui ternyata dari Universitas Diponegoro Semarang, dan kami sempat berkenalan dengan instrukturnya, Pak Amiruddin, yang berasal dari Aceh. “Wah, instrukturnya ganteng sekali ya, seperti bintang film India!” kata Dinda, teman kami, yang sepertinya naksir. Tak heran setelah ia bisa berfoto dengan sang instruktur, sepanjang perjalanan pulang ia tak henti-henti kami goda. Sayangnya, meski kemudian kami sama-sama searching di Facebook mencari nama sesuai yang Amiruddin berikan, kami tak menemukannya juga. Impian Dinda pun tinggal kenangan…

Sunrise Karimunjawa dari Wisma Apung

Sunrise yang indah meski matahari tertutup kabut.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *