Sunset di Karimunjawa dilihat dari Wisma Apung
Indonesia, Journey

Surga Kecil Karimunjawa

Meski kelihatannya menyeramkan, puluhan hiu yang ada di kolam itu merupakan hiu jinak. “Jenisnya hiu pari dan hiu putih. Semuanya ada 30 ekor,” kata Bu Nurul. Lebih tepatnya, hiu black tip, dengan ciri warna hitam di ujung sirip punggung. “Nggak apa-apa kok, turun ke kolam. Asal tidak sedang punya luka di kaki saja.” Hiiih! Norman akhirnya bisa menangkap ekor hiu pari, dan mengangkatnya. “Wah, berat sekali. Kulitnya seperti ampelas!”

Bermain dengan hiu di Wisma Apung Karimunjawa

Aman bermain dengan hiu sepanjang tak punya luka di kaki.

Tidak semua hiu berkumpul di satu kolam. Selain di kolam berbentuk L dan berukuran sekitar 3 kamar tidur ini, ada dua kolam kecil yang terpisah, berisi ikan-ikan hiu yang masih kecil. Lalu ada satu kolam lagi yang berisi anak-anak penyu, serta ikan-ikan cantik. Di kolam utama sendiri juga ada penyu dan bintang laut. Seekor penyu yang besar sekali tampak malas bergerak, dan juga tak merasa terganggu oleh teman-teman hiunya yang tak henti bergerak.

Hari makin sore, kesibukan pun kini berganti: melihat sunset. Tidak perlu mencari tempat lain untuk mengejar yang satu ini. Tinggal buka pintu belakang tiap kamar, dan matahari yang hendak pulang ke peraduannya pun terlihat di sana, dengan nelayan bersama sampannya sebagai latar depan. Ya, ini memang ‘kemewahan’ yang ditawarkan wisma ini. Sunset from your own room!

Sunset di Karimunjawa

Pulang di tengah sunset yang indah.

Malam, setelah makan malam yang diantar dengan perahu dari pulau utama, saya bergabung dengan Novi dan Vindhya, tidur-tiduran di ponton di depan wisma, membiarkan diri diayun-ayun ombak yang tenang, sambil memandang ribuan bintang di langit. Hmmm… perjalanan yang melelahkan kini sedikit demi sedikit mulai ‘terbayar’.

Pesona Cemara Besar

Bagi penyuka sunrise, mungkin Wisma Apung bukan tempat yang tepat, karena dari sini matahari terhalang bukit di pulau utama. Namun bias sinarnya yang keemasan memaksa kami untuk betah berlama-lama duduk di beranda atau di ponton, sambil menyeruput kopi dan melihat perahu-perahu nelayan lewat di depan wisma. Begitu matahari muncul, sinarnya segera menyapu seluruh bagian wisma. Dan, meski kami semua belum mandi, kini waktu yang tepat untuk berfoto-foto! Kami baru berhenti ketika perahu Pak Harto—asisten Bu Nurul—datang membawa sarapan.

Sunrise di Wisma Apung Karimunjawa

Menikmati perahu-perahu yang lewat sambil menunggu sunrise.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *