Rupanya saya, dan para turis lain yang ternyata banyak turun di sini, harus naik kereta kabel dulu ke stasiun di dekat bangunan yang tak lain adalah Grandhotel Giessbach. Barulah ketika menginjak halaman depan hotel, suara air terjun itu menggemuruh dari sisi kanan.
Wow, air terjun bertingkat 14 alias cascade ini masih melimpah dengan airnya yang mencurah dari puncak bukit. Kabut airnya berpendar saat terkena sinar matahari dan airnya mengalir bertingkat-tingkat melewati jembatan pandang dengan beberapa orang di atasnya, sebelum menghilang di rerimbunan hutan.Tapi yang lebih ramai adalah di halaman hotel ini, karena ini saatnya makan siang. Orang-orang bersantap maupun minum wine dengan dilayani para pramusaji di halaman hotel di bawah rimbunan pohon, dengan pemandangan kanan air terjun, dan sebelah kiri Danau Brienz. Panas tengah hari tak terasa di sini. Apa lagi yang lebih menyenangkan dari ini di musim panas?
Halaman samping kanan hotel yang hanya terpisah pagar tembok dengan danau ini segera mengingatkan saya pada lokasi honeymoon Padma Amidala dan Anakin Skywalker di film Star Wars. Situasinya mirip-mirip seperti itu. The biggest irony-nya ya karena saya datang sendiran dan tidak ada turis lain yang bisa membantu motoin.
Makan siang pun saya percepat karena kaki sudah tak sabar untuk menuju air terjun. Jalan setapaknya datar dan hutan sekitar air terjun yang didominasi pohon beech, ash, dan pohon oak yang tinggi, tertata rapi dan bersih seperti ada tukang kebunnya saja. Sensasi yang paling menyenangkan adalah karena kita bisa berjalan di jembatan setapak tepat di bawah kucuran air yang terjun menggemuruh dan menetes-netes dari dinding batu di atas kepala.
Sejak abad ke-19, para turis sudah bisa mengunjungi air terjun ini karena jasa Pendeta Daniel Wyss dan kepala sekolah Johann Kehrli. Kehrli seorang diri membuat jalan setapak dari pantai danau ke air terjun terendah kedua dan membuat bangku-bangku di sana, sementara Wyss membuka jalan ke air terjun yang lebih tinggi. Kehrli juga menyalakan obor di tiap tingkatan air terjun saat malam hari, membuat shelter berteduh, diikuti dengan membuka restoran kecil, dan akhirnya penginapan Gasthaus Giessbach pada tahun 1832. Anak-anaknya menghibur para tamu dengan menyanyikan lagu-lagu tradisional dan memainkan alphons.
Di lokasi penginapan inilah, setelah beberapa kali pindah tangan, akhirnya tahun 1870 dimiliki oleh Karl Hauser. Karl lalu menugaskan Horace Edouard Davinet,
perancang hotel terkenal saat itu, untuk membangun hotel 5 lantai dengan kubah ala Museum Louvre dan tangga besar menuju lobi. Tahun 1879 Karl menambahkan kereta kabel –menjadi kereta kabel pertama di Eropa– untuk memanjakan para tamunya yang terdiri dari keluarga kerajaan Rusia, India, Afrika dan Eropa, taipan bisnis, para pemimpin industri, tuan-tuan tanah dari Polandia dan Hongaria, hingga para seniman dan sastrawan terkenal.
Setelah direnovasi beberapa tahap, Juni 1984, Grandhotel Giessbach dibuka kembali. Sejak itu hotel dengan 175 kamar ini semakin populer di seluruh Swiss, dan tahun 2004 bahkan menyabet penghargaan bergengsi ‘Historic Hotel of the Year’.
Memasuki lobinya yang lega, nuansa klasik abad ke-19 sangat terasa. Beberapa koleksi lukisan milik Davinet menghiasi lobi hingga restoran Le Tapis Rouge di sampingnya, yang punya jendela-jendela yang menawarkan pemandangan ke air terjun.
Sayang saya tak sempat melongok ke Giessbach Suite yang kamar dan terasnya mempunyai pandangan langsung ke Danau Brienz. Sebab pukul 14.44 kapal Loetschberg akan kembali dari Brienz dan sampai di Giessbach See pukul 14.51. Saya harus ikut. Saya memilih untuk tidak naik kereta kabel, melainkan treking menyusuri jalan setapak menurun yang dibuat Kehrli. Ini treking yang menyenangkan karena dinaungi pohon-pohon yang teduh, dengan beberapa kursi kayu di pinggir jalur trek. Dan beruntungnya lagi, karena saya akhirnya melewati jembatan kayu di atas air terjun paling bawah yang airnya langsung mencurah ke danau, yang tadi saya lihat dari kapal.
Kapal Loetschberg dengan haluannya yang berhias ornamen bunga emas sudah terlihat berlayar anggun menuju dermaga Giessbach See. Saya pun mempercepat langkah agar tak ketinggalan melayari Danau Brienz lagi bersama si cantik beruap ini.
“Loetschberg, tunggu saya!” [T]
KETERANGAN:
Foto utama Dokumentasi BLS [www.bls.ch]







Keren abis pak de tulisannya. Tata letak foto dan penampilan bognya juga menggoda. Mantap…
Hehehe trims Pak dah baca-baca. Iya ini sengaja nyari template yang clean dan simpel, hurufnya jg cukup besar dan alhamdulillah nemu template Ryu ini.
Seperti biasa tulisan masteg selalu menggugah rasa seperti lagi disana 😍😍 jd kangennn interlaken! serunyaaa ya naik kapal ini, sayang waktu aku ksana kid april msh ga kuat nahan dinginnya wkwk next try ah pengen!
April mah masih dingin, enak peluk-pelukan di Interlaken aja hahaha!