Journey, Mancanegara

Summer Brienz

Salju-di-sekitar-Danau-Brienz-telah-mencair-saat-musim-panas

Tak ada lagi salju di gunung-gunung makanya lebih baik berlayar.

Dibuat oleh galangan kapal Escher Wyss di Zurich, Loetschberg mulai beroperasi pada tahun… 1914! Dulu, kapal ini menggunakan batu bara sebagai pemanas uapnya, namun sekarang sudah diganti bahan bakar minyak. Uap bertekanan ini selanjutnya menggerakkan mesin dan memutar ‘pedal’ (lebih tepatnya seperti kincir air) yang membuat kapal bisa melaju hingga kecepatan 13 knot per jam.
Jika dilihat dari samping, Loetschberg yang punya panjang 56,5 meter ini bisa menipu mata, karena kelihatan bentuknya yang ramping, pipih, panjang dan lancip di kedua ujungnya. Persis seperti kapal perang frigat. Tapi jika dilihat dari depan, akan tampaklah bahwa kapal ini gemuk, dengan lebar 12,8 meter.  Di sisi kanan-kirinya kita bisa melihat baling-baling pedal kapal ini berputar mengaduk air. Saking besarnya, baling-baling ini juga bisa kita lihat dari balik kaca di lantai dua kapal ini.

Air-Danau-Brienz-berwarna-hijau-toska-dan-desa-sepi-di-dekat-Interlaken

Rumah-rumah yang dilingkupi hutan yang asri, namun juga sepi.

Loetschberg kini bergerak dengan suara ritmis pedalnya meninggalkan kanal, dan masuk ke Danau Brienz. Air kanal yang tadinya mirip hijau daun kini berubah menjadi hijau turquoise. Gunung-gunung kelabu tanpa salju yang melingkupi danau ini kini terlihat jelas, dan perbukitan hijau serta rumah-rumah yang sepi dengan garasi perahunya di pinggir danau menghiasi beberapa titik.
Delapan belas menit telah berlalu, dan kapal ini mencapai perhentian pertama yakni Bonigen, disambut sebuah sampan mainan dengan sepasang insan di dalamnya. Entah siapa yang mengendalikan remote control-nya.

Kapten-kapal-uap-Loetschberg-memberi-perintah-dengan-mikrofon-kuno

Sang kapten memberi perintah dengan cara yang ‘old school’.

Di Danau Brienze ini Loetschberg akan berhenti selama 1 menit di beberapa desa kecil untuk menaik-turunkan penumpang. Sebab tidak semua penumpang akan ke tujuan akhir kapal, yakni Brienz. Saya sendiri hanya akan sampai Giessbach. Dari peta yang saya pegang, setelah dari Bonigen ini kapal akan ke Ringgenberg, lalu ke Iseltwald, Giessbach, dan Brienz. Masih ada desa lain seperti Niederried, Oberried, dan Brienz Dorf, namun apakah kapal akan mampir di perjalanan pergi atau pulangnya, itu tergantung skedul kapal dan juga ada tidaknya penumpang di titik itu.
Saya tidak memperhatikan apakah kapal ini mampir ke Ringgenberg atau tidak, karena saya lebih sibuk berjalan-jalan melihat isi kapal. Lagipula kapal baru akan sampai Giessbach nanti pukul 12.09, atau 1 jam 2 menit dari sejak berangkat.

Pemandangan-indah-dari-kabin-kelas-1-Loetschberg

Nuansa klasik di resto kelas 1 Loetschberg. [Dok. BLS]

Loetschberg ini terdiri dari tiga lantai. Lantai paling bawah merupakan ruang mesin, dengan sang mualim alias jurumudi kapal yang berdiri di depan tiga speaker warna emas yang juga berbentuk seperti mulut terompet. Speaker itulah yang menyalurkan perintah suara dari sang kapten kapal yang ada di anjungan kapal, di bagian paling tinggi dari kapal ini. Jika kapal mau belok kanan, sang kapten akan berjalan keluar dari anjungan ke sisi kanan, lalu memberikan perintah melalui mikrofon sisi kanan. Begitu sebaliknya kalau mau belok kiri, sang kapten akan keluar ke sisi kiri, lalu memberikan perintah ke mualim dari situ. Jadi di ruang mualim ada tiga speaker supaya jelas dari sisi mana perintah berasal. Maklum, di depan mualim ini, hanya dibatasi sekat, piston-piston mesin yang besar bergerak sinkron tanpa henti memutar pedal kapal.  Saya bisa bercerita seperti ini karena memang para penumpang bisa melihat sang mualim bekerja dari lantai dua, persis dari atas piston, hanya dibatasi oleh pagar besi. Anak-anak maupun orang dewasa suka sekali berkumpul di sini – selain melihat baling-baling pedal kapal dari balik kaca tadi.

Penumpang-Loetschberg-bisa-melihat-mesin-kapal-bekerja

Pemandangan ‘live’ ruang mesin Loetschberg bisa dilihat dari dek lantai 2. [Dok. BLS]

Lantai dua kapal ini untuk penumpang kelas dua. Dek utamanya bernuansa kayu, termasuk tangga, lantai, jendela, dan juga meja-meja dan kursinya yang berwarna marun. Ujung haluan (depan) kapalnya tidak selega di bagian buritan karena menjadi tempat menyimpan jangkar dan rantainya. Kalau mau lebih leluasa melihat pemandangan depan mapun kanan-kiri, naiklah di lantai berikutnya, dek penumpang kelas satu. Meja-meja dan kursinya bernuansa cerah off-white dengan jendela-jendela kaca kanan-kiri yang lebih besar. Memang, harga tiketnya juga agak beda jauh. Untuk Interlaken Ost ke Giessbach See pergi-pulang, kelas dua bayar 43 franc Swiss (sekitar Rp 625 ribu), sementara kelas satu 70 franc Swiss (sekitar Rp 1 juta). Sistem ticketing di Swiss buat saya agak membingungkan karena banyak pass dan skema diskon tertentu. Untuk pastinya bisa cek skedul dan harga tiket ini di fahrplan.bls.ch/index.html.

Air Terjun 14 Tingkat

Loetschberg berhenti di Iseltwald selama satu menit, lalu meninggalkan dermaga yang di sampingnya ada hotel cantik Strandhotel. Para turis tampak bersantai menikmati musim panas di bawah kanopi-kanopi di halaman hotel.

Strandhotel-Iseltwald-di-tepi-Danau-Brienz

Iseltwald dengan Strandhotel-nya yang cantik.

Danau yang bersih dan sepi tanpa lalu-lalang kapal lain, membuat perjalanan ke Giessbach menjadi tak terasa. Tahu-tahu saya melihat kapal ini tengah mengarah ke sebuah bangunan dermaga panjang dengan rel kereta yang menaik di belakangnya, dan sebuah bangunan di ketinggian bukit, di antara rerimbunan pohon-pohon besar. Sebuah aliran air yang deras tampak menyembul dari gerumbul pohon di pinggir danau. Tapi, di manakah air terjun Giessbach Wasserfall yang terkenal itu?

Standard

4 thoughts on “Summer Brienz

  1. Seperti biasa tulisan masteg selalu menggugah rasa seperti lagi disana 😍😍 jd kangennn interlaken! serunyaaa ya naik kapal ini, sayang waktu aku ksana kid april msh ga kuat nahan dinginnya wkwk next try ah pengen!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *