Langkawi Cable Car
Journey, Mancanegara

Menuju Puncak Mat Cincang

Mat Cincang, yang puncaknya membentuk figur wajah seorang lelaki  sedang berbaring, merupakan gunung batu cadas dengan inti batu granit, dan menjadi gunung tertinggi kedua di Langkawi setelah Gunung Raya (890 m). Penamaan yang unik ini tak lepas dari legenda Langkawi, yang menyebutkan bahwa dulu Mat Raya dan Mat Cincang merupakan dua raksasa yang bersahabat, namun kemudian bertengkar hebat di hari pernikahan putra-putri mereka. Setelah didamaikan oleh Mat Sawar, ketiganya lalu berubah wujud menjadi gunung, dengan Gunung Mat Sawar berada di tengah-tengah Gunung Raya dan Gunung Mat Cincang.

South Platform dan North Platform di Top Station, menawarkan pandangan 360 derajat kawasan Teluk Andaman

South Platform dan North Platform di Top Station, menawarkan pandangan 360 derajat kawasan Teluk Andaman. [Dok. Tourism Malaysia]

Turun di Top Station, ada tiga tempat yang menawarkan pemandangan berbeda. Dengan berjalan kaki menaik ke sisi selatan stasiun, kita sampai di South Platform, area pandang 360 derajat yang dilengkapi sebuah kafe. Di sini kita bisa sejenak melepaskan lelah dengan duduk sambil minum kopi, melihat pemandangan jauh ke bawah. Dari sini ada jembatan kecil menuju North Platform, di mana kita bisa melihat keseluruhan pulau, serta pemandangan Laut Andaman yang kehijauan di sisi barat, dan Pulau Ko Tarutao, Ko Adang serta Ko Lipeh di sisi utara, yang sudah masuk ke wilayah Thailand.

Alternatif lain, begitu keluar dari gondola, kita bisa berjalan kaki turun di sisi utara stasiun,  menuju Hanging Bridge. Saya memilih yang ini dulu. Saya pun menuruni jalan setapak dari beton, berbelok-belok kira-kira 100 meter ke bawah. Di kiri-kanan jalan dipenuhi pohon-pohon seperti pohon meranti, namun paling besar hanya seukuran lengan orang dewasa. Batangnya berwarna kuning kemerahan dan keras seperti besi. Konon pohon-pohon ini berusia ratusan tahun, namun batangnya tak bisa membesar lagi, karena energi yang seharusnya digunakan untuk membesar, sudah terkuras untuk mencari air dan makanan di dalam batu cadas gunung.

SkyGlide Langkawi Cable Car

SkyGlide, bagi yang nggak mau capek turun dan naik ke Hanging Bridge. [Dok. Panorama Langkawi]

Sebenarnya bisa juga sih dari Top Station turun ke Hanging Bridge memakai SkyGlide. Itu, kabin kereta rel yang bisa mengantar kita hanya dalam 2 menit. Tapi itu buat yang lututnya lemah sajalah. Saya kan masih kuat. Nggak tau nanti waktu pulangnya yang menanjak, hahaha!

Bisa Pulang dengan Treking

Jembatan gantung dengan panjang 125 meter dengan lintasan melengkung setengah lingkaran, siang itu ramai oleh para turis yang berfoto-foto. Sesekali beberapa turis wanita memekik ketika  jembatan bergoyang tertiup angin. Saat udara cerah, pemandangan di sisi barat menghadirkan bukit hijau tegak lurus, dengan Laut Andaman di bawahnya. Di atas kepala melintas gondola-gondola, dan di kejauhan tampak laut yang membiru. Jika cuaca tengah mendung, kabut akan menutupi puncak gunung dan pemandangan berubah menjadi keabu-abuan.

Hanging Bridge Langkawi Cable Car

Hanging Bridge, mendebarkan kalau dilihat dari jauh. [Dok. Tourism Malaysia]

Saya kembali ke Top Station, dan sampai dengan terengah-engah karena kali ini harus berjalan menanjak. Sangat bagus untuk olahraga, saya menghibur diri-sendiri. Menurut seorang penjual suvenir, jalur menuju Hanging Bridge memang bagus untuk berjalan kaki pagi. “Tapi kalau menjelang sore, kita mesti berhati-hati karena biasanya saat itu hewan-hewan malam seperti ular mulai keluar mencari makan.”

Hanging Bridge Langkawi Cable Car

Menunggu embusan angin menggoyang Hanging Bridge.

Kalau masih mempunyai waktu, dari Top Station ini juga ada jalur treking menuju Middle Station, terus hingga ke Recreational Park di dekat Telaga Tujuh. Panjangnya sekitar 2,5 km. Ada jalur treking berupa tangga-tangga beton, dan kita bisa memulai treking dari atas atau dari bawah. Wah, sebenarnya asyik juga ya. Kan jalur treknya menurun, jadi nggak capek. Tapi, saya nggak akan bisa merasakan sensasi yang katanya ‘lebih mendebarkan’ saat pulang naik cable car dong?

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *