Sebelumnya, Siem Reap sudah mempunyai Provincial Royal Residence yang menjadi tempat menginap saat Sihanouk mengadakan kunjungan kerja. Jadi, pembangunan Villa Princiere tampaknya untuk memenuhi kebutuhan tamu dan keluarga yang lebih bersifat kasual. Diketahui kemudian, anak-anak Sihanouk lebih sering tinggal di sini. Pangeran Ranariddh, Putri Buppha Devi, dan Putri Macha Phan, tinggal di sini saat liburan sekolah. Pangeran Sihanouk sendiri dikabarkan tidak pernah menginap di sini.

Sangat disarankan untuk sarapan di Dining Terrace ini sambil menikmati suasana pagi.
Tahun 1964, hanya 2 tahun setelah Villa Princiere berdiri, Sihanouk menyerahkan villa ini ke sebuah lembaga pemerintah, SOKHAR, yang menangani beberapa hotel milik pemerintah. Mungkin salah satu alasannya, karena saat itu pariwisata Siem Reap tengah berkembang pesat. Jumlah turis yang berkunjung ke Angkor Wat –10 km utara Siem Reap– meningkat pesat, sementara kebutuhan akan hotel yang layak masih kurang. Villa Princiere pun digabung ke dalam manajemen yang mengelola Grand Hotel d’Angkor. Empat suite yang sudah ada dirombak menjadi 12 kamar hotel, dengan rate US$ 18.30 per malam, tarif termahal di Siem Reap saat itu. Di masa ini, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman, Prince Raimondo d’Orsini dari Italia, serta aktor Peter O’Toole, pernah menginap di Villa Princiere.

Tiang-tiang dari batu kali dan kursi-kursi rotan menyapa di sepanjang koridor suite.
Terjadinya kudeta tahun 1970 membuat Sihanouk terpaksa mencari suaka ke Beijing, dan pemerintahan Lon Nol yang berkuasa mengambil alih Villa Princiere dan merubahnya menjadi Villa Sokha. Namun keadaan keamanan yang memburuk membuat pariwisata Siem Reap kolaps. Di akhir tahun yang sama, Villa Sokha ditutup.
Dengan berkuasanya Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot mulai tahun 1975, villa ini berubah menjadi kamp tentara, dan ruang makannya digunakan sebagai dapur umum. Dalam sebuah catatan Sihanouk saat mengunjungi Siem Reap ketika menjadi tahanan rumah, dia menyebut kondisi villa saat itu ‘tidak mungkin bisa diperbaiki lagi’.
Diusirnya Khmer Merah oleh tentara Vietnam tahun 1979 diikuti dengan dibukanya kembali Grand Hotel d’Angkor dan Villa Princiere –yang kini dinamai Villa Apsara– sebagai hotel. Kamar-kamar di villa ini dibagi lagi menjadi dua, menjadi 24 kamar. Di tahun-tahun awal, villa ini hanya untuk menerima para pejabat pemerintah dari Phnom Penh. Namun setelah pariwisata menggeliat kembali, tahun 1986 villa ini menerima tamu-tamu wisatawan.