Berikutnya, kami diajari cara membuat posisi papan ski tegak lurus dengan arah permukaan salju yang menurun, agar papan ski tetap di tempatnya dan tidak meluncur. Ternyata dengan latihan awal ini saja kami semua sampai keringatan dan kehausan, karena untuk menggerakkan badan dan menjaga keseimbangan saja butuh energi yang besar.

Jatuhnya sudah lumayan feminin. Sekarang, bisa bangun nggak?
Setelah masing-masing orang berlatih tahap awal, pelajaran meluncur pun dimulai. Meluncur itu gampang, tinggal mengayuh tongkat ski saja. Menghentikannya yang saya tidak tahu. Dan ternyata caranya dengan menjatuhkan badan ke sisi kiri dengan lembut. Kata Sandra, “Cara jatuhnya mesti feminin, seperti wanita.”
Tapi masalah yang lebih besar kemudian datang. Setelah jatuh, bagaimana supaya bisa berdiri kembali, dengan kaki tetap terpaku pada sepatu ski yang terpasang di papan ski sepanjang 1,5 meter? Ternyata, caranya memang badan harus sepenuhnya diangkat dengan kekuatan tangan yang bertumpu pada tongkat ski. Saya yang berbadan kecil saja harus dibantu dua orang. Dwi, teman saya yang berbadan besar sampai keringatnya bercucuran saking susahnya mengangkat badan. Martin sampai susah payah untuk membantunya berdiri.
Terlempar dari Sledge
Tidak terasa dua jam sudah berlalu, dan kini saatnya beristirahat. Cuaca menjelang siang ini masih secerah seperti pagi. Matahari bersinar terang tapi tidak panas, dan langit yang tadi biru kini masih biru namun sudah berhias garis-garis putih bekas lintasan-lintasan pesawat terbang. Puncak Eiger yang mengerucut sepertinya sudah tak jauh lagi kalau didaki, meski sebenarnya masih dua kilometer lagi ke atas.

Kebayang betapa repotnya para pemula untuk naik lagi ke ketinggian kalau tanpa travalator ini.
Di depan tempat kami latihan, para pemakin ski yang sudah mahir meluncur dengan cepat menuju lembah. Sepasang remaja Asia malah melintas dengan sledge, kereta luncur salju. Pastinya mereka sudah ahli bermain alat itu, karena mereka kini hendak meluncur ke bagian lembah yang agak curam. Sementara, seorang wanita tua malah datang dari lembah bersama dua anjingnya. Sepertinya dia sedang dog-walking, karena dia tidak memakai sepatu dan papan ski, melainkan cuma tongkatnya. Di belakang tempat kami, dibatasi oleh travalator, ibu-ibu yang masih muda mengajari anak-anak balita mereka. Jelas sekali, anak-anak itu sudah jauh lebih mahir main ski dibanding saya.
Setelah makan siang, kami boleh memilih aktivitas bebas. Yang masih terus berlatih ski kini tinggal dua teman. Sepertinya mereka serius sekali, dan kini pelatih pengganti Martin mulai mengajari mereka cara mengerem luncuran dengan papan ski. Saya, yang sudah melepas sepatu ski, memilih aktivitas lain, bermain sledge.
Ternyata meluncur dengan kereta ski ini asyik juga, meski tetap harus pandai mengarahkan setirnya yang cuma dikendalikan dengan tali, dan mengerem laju kereta dengan cara kaki menggusur salju. Pertama mencobanya, muka saya langsung mencium salju, terlempar dari kereta akibat mengerem mendadak karena panik hendak menabrak dinding travalator. Tapi setelah itu, makin lama makin menyenangkan mengendarai kereta tanpa roda ini. Saya baru berhenti ketika sepatu mulai basah dan dingin oleh salju.

Bersiap-siap meluncur ke lembah dengan sledge. Pastinya mereka sudah ekspert.