Luwak Bulan (civet) untuk memproduksi kopi luwak di Lampung
Indonesia, Journey

Hari-hari Para Luwak

Sapri dan istrinya Sri Wiyatni, yang mengusung merek ‘Ratu Luwak’, menghasilkan kopi sekitar 7 kuintal per bulan, mulai dari kopi bubuk, kopi sangrai utuh, serta green bean. Sapri, yang mempunyai 80 luwak, ditambah 120 luwak di para petani kopi binaannya, mengaku sekarang tidak menjual kopi gelondongan lagi, karena sering menerima komplain dari pelanggan akibat biji kopinya banyak yang reject. Dari pengalaman Sapri, hal ini terjadi karena luwak kadang tidak konsisten dalam memilih buah kopi. “Yang paling pintar memilih biji kopi sebenarnya kita, manusia,” katanya serius.

Kopi luwak produksi Liwa, Lampung Barat

Kopi luwak, rasanya memang berbeda dengan kopi biasa.

Akibat luwak yang tidak konsisten itu, kualitas kopi gelondongan pun menurun karena setelah dicuci, ditemukan biji-biji kopi yang kualitasnya tidak bagus. Inilah yang dijadikan alasan pembeli untuk meminta harga yang lebih murah, sehingga Sapri tidak menjual kopi gelondongan lagi.

Sebelum pulang, saya mencicipi dulu seduhan kopi luwak yang Ibu Sri sajikan. Memang benar, kopi luwak berbeda dengan kopi biasa. Warna hitam kopinya lebih muda, lebih kental, lebih berat ‘bodi’ kopinya, namun terasa lebih halus saat diteguk. Tak heran orang Barat menyebutnya lebih syrupy, alias seperti sirup. Aroma karamel dan cokelat langsung terasa di langit-langit mulut, dengan rasa pahit yang hampir tidak ada. Hmm, mungkin ini sebabnya, banyak orang yang rela membayar jauh lebih mahal untuk seteguk kenikmatan kopi ini. [T]

 

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *