Luwak Bulan (civet) untuk memproduksi kopi luwak di Lampung
Indonesia, Journey

Hari-hari Para Luwak

Luwak yang suka kopi dipelihara karena mereka bisa menjadi ‘mesin penghasil biji kopi’ bagi Gunawan dan beberapa pengusaha kopi luwak lain yang berlokasi di sebuah gang di Jl. Raden Intan, kota Liwa, Lampung Barat ini.  Ya, luwak atau musang—atau musong kalau orang Liwa menyebutnya—sebenarnya dulu merupakan musuh para petani dan pengusaha perkebunan kopi, karena mereka sering mencuri buah kopi yang sudah memerah masak di pohonnya. Luwak-luwak itu juga meninggalkan ‘hadiah’ feses di mana-mana.

Lebih Mahal dari Kopi Blue Mountain

Entah siapa dulu yang paling awal punya ide, kemudian diketahui bahwa feses luwak yang mengandung biji-biji kopi utuh sisa hasil pencernaan itu setelah dicuci dan diolah, ternyata bisa menjadi kopi yang sungguh nikmat, jauh lebih enak dibanding kopi yang tidak dimakan luwak.

Tak heran jika harga kopi luwak pun melangit, mencapai sekitar 343 dolar per kilo (Rp3,25 juta). Jauh lebih mahal dibanding kopi terkenal seperti kopi Blue Mountain dari Jamaica, yang ‘hanya’ 108 dolar per kilo. Bahkan harga eceran di Jepang dan Amerika bisa mencaai 800 dolar per kilo, dan harga satu cangkir kopinya bisa mencapai 50 dolar. (Di salah satu kafe di Sanur, Bali, harga secangkir kecil kopi luwak Rp200.000).

Sejak itu perburuan pun dilakukan. Awalnya tidak untuk mengejar luwak, melainkan untuk menemukan fesesnya. Tak hanya di kebun kopi, tapi juga ke hutan-hutan di kawasan Lampung Barat. Namun sampai tahun 2007, perburuan itu tidak memperoleh hasil yang memuaskan, karena untuk mendapatkan 50 kilo feses luwak per bulan saja sulit. Hingga kemudian muncul ide lagi, bagaimana kalau luwak-luwak itu ditangkap dan dikandangkan saja untuk diberi makan kopi, agar mereka bisa berproduksi secara kontinyu dan konstan?

Mulai tahun 2008, cara terakhir inilah yang kemudian berkembang dan dilakukan Gunawan dan juga Sukardi dan Sapri, dua pengusaha kopi luwak yang uniknya letak usahanya sederetan dengan Gunawan. Di samping ketiga orang ini, masih ada puluhan petani kopi luwak lain yang menjadi binaan mereka.

Seiring permintaan kopi luwak yang semakin meningkat, begitu pula kebutuhan akan luwak-luwak ini.

“Harga satu ekor luwak kini antara Rp1,5 juta sampai Rp2 juta,” kata Sukardi, yang membeli luwak dari petani maupun para pemburu. Ia punya 30 ekor luwak, dan bisa meningkat menjadi 50 luwak saat tengah panen raya kopi, bulan April-Mei.

Biji kopi yang sudah masak untuk pakan luwak

Luwak hanya mau makan biji kopi yang benar-benar masak dan segar.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *