Luwak yang bisa dipelihara untuk makan kopi adalah yang berusia 4 sampai 17 tahun. Mereka harus dikandangkan sendiri-sendiri, kalau tidak, mereka akan saling cakar satu sama lain. Luwak-luwak itu juga tidak dilepas di dalam kebun kopi yang berpagar tinggi agar bisa setengah ‘bebas’ sebagai hewan liar. “Sebabnya, dikandangi saja kadang ada yang lepas malam-malam, hahaha!” gelak Sukardi.
Tak Hanya Makan Kopi
Meski luwak-luwak itu sebenarnya lebih suka kopi arabika yang lebih manis dan harum, di Liwa ini yang menjadi makanan mereka adalah kopi robusta, karena jenis kopi inilah yang paling banyak ditemui di daerah ini. Buah-buah kopi itu dibeli dari para petani maupun perkebunan Nusantara dengan harga Rp6.000-7.000 per kilo, dan dipilih yang benar-benar sudah merah, masak, dan segar. “Artinya, buah kopi itu baru saja dipetik, maksimal dua hari saja jeda waktu antara pemetikan dengan diberikan ke luwak. Kalau lebih dari itu luwak tidak akan mau.”

Menyangrai biji kopi luwak yang ternyata masih dilakukan secara tradisional.
Buah-buah kopi itu diberikan pada sore hari. Paginya, feses luwak yang mengandung biji-biji kopi itu sudah terlihat di bawah kandang. Ya, yang dimakan luwak hanya daging buah kopinya saja, sementara biji kopinya, meski ikut dicerna enzim-enzim di dalam saluran pencernaan luwak, akan keluar lagi dalam keadaan utuh. Yang unik, luwak pandan bisa mengonsumsi sampai 1 kilogram buah kopi per malam, sementara luwak bulan hanya setengahnya. Dari sini, dihasilkan feses yang beratnya 200-300 gram.
Apakah luwak itu hanya makan kopi saja? “Oh, tidak,” Sukardi tertawa. “Kalau kopi saja ya nggak ada gizinya. Kopi itu hanya makanan selingan. Saya juga memberikan makanan lain seperti buah, ikan, daging ayam, susu, sampai multivitamin.”
Dulu, tambah Sukardi, ia pernah memberi makan jerohan ayam, dan luwak-luwak itu sangat suka. Tapi kemudian banyak luwak yang sakit, sehingga akhirnya ia tidak pernah memberi makanan itu lagi.

Sukardi lebih banyak menyasar pasar luar negeri untuk biji kopi luwaknya.
Feses luwak itu kemudian dicuci sehingga tersisa biji kopi yang masih utuh (kecuali kopi yang akan dijual gelondongan). Lalu biji kopi atau kopi gelondongan itu dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari sampai kering. Biji kopi lalu dikupas lagi cangkang kerasnya sehingga dihasilkan green bean. Biji inti ini dicuci lagi sampai bersih, lalu disangrai. Sebagian kopi sangrai ini digiling menjadi kopi bubuk dan dikemas dalam wadah aluminium foil kedap udara.
Gunawan, yang memasarkan kopinya dengan merek ‘Raja Luwak’, menghasilkan 2,5 kuintal kopi bubuk per bulan, sedangkan kopi gelondongan 7 kuintal. Pemasaran kopinya sudah merambah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Bali. Sementara itu Sukardi, yang mempunyai merek ‘Kopi Musong Liwa’ baru memproduksi 40-50 kilo kopi bubuk per bulan, namun ia menghasilkan green bean antara 5 kuintal sampai 1 ton per bulan. Green bean itu umumnya untuk pasaran luar negeri seperti Taiwan, Cina, Jepang, dan Eropa. Harga kopi bubuk luwak sendiri untuk pasaran di Jakarta mencapai Rp1,2 juta per kilo, sedangkan green bean Rp400 ribu per kilo, dan kopi gelondongan Rp250 ribu per kilo. Kalau membeli langsung ke Liwa ya pastinya akan lebih murah.